Kota Metro, Masalah kebersihan sepertinya menjadi masalah yang rumit di setiap daerah, tidak terkecuali di Kota Metro. Di setiap sudut, terutama di berbagai jembatan terlihat banyak sampah yang sengaja dibuang oleh warga di tempat tersebut.

Merasa prihatin dengan kondisi tersebut, Ali Rosad berinisiatif mendirikan Komunitas Cinta Metro (KOCIMET) pada tahun 2011. Komunitas yang bergerak untuk menjaga kebersihan di Kota Pendidikan ini berawal dari grup Facebook ini memiliki anggota sekitar 850 orang, namun hanya sekitar 80an orang yang berani turun ke lapangan.

Komunitas ini aktif mengawasi daerah-daerah yang rawan untuk menjadi tempat pembuangan sampah oleh warga, “Misalnya yang di Margerejo itu, di Jalan Bantul itu kita jaga sampai pagi. Ada ibu-ibu buang popok bayi itu kita amankan, ktpnya kita ambil dan kita serahkan ke pihak berwenang. Lalu yang di Jalan Adipati sempat viral kan beberapa waktu lalu sampah menumpuk, menanggapi itu kami koordinasi dengan Satpol PP dan Dinas Lingkungan Hidup itu kita bersihkan lalu kita tanami pohon pucuk merah sekarang sudah gak ada orang buang sampah lagi disitu”, ujar Ali Rosad.

Pria yang dipanggil anggota Komunitas sebagai Presiden KOCIMET ini mengaku sering mendapat ancaman dari oknum yang tidak senang dengan apa yang dilakukan KOCIMET, “Spanduk-spanduk himbauan yang kita pasang itu sering dibakar sama oknum yang gak senang sama kita. Saya juga sering dapat pesan singkat bernada ancaman seperti di ancam leher saya mau dipotong itu sering, cuman kalo ancaman langsung itu tidak, mereka gak berani”, tambahnya.

Ali Rosad juga menjelaskan bahwa pelaku pembuangan sampah sembarangan ini bukan hanya warga sipil, namun dari pelaku industri juga banyak yang membuang sampah sembarangan, “Kita pernah menangkap itu, bisa ditelusuri orang-orang seperti pemilik rumah makan, rumah potong hewan disekitar juga pernah. Fokus kami di jembatan, seperti penghubung-penghubung Kota Metro dengan daerah lain. Karena oknum-oknum ini punya keinginan agar pelaku pembuang sampah itu terkesan seperti orang luar Kota Metro”.

Pria ini berharap warga Kota Metro lebih pandai untuk mengelola sampah rumah tangga, “Saya berharap warga kita ini lebih cerdas, lebih pandai mengelola sampah rumah tangga. Contohlah kakek-nenek kita itu lebih pandai mengelola sampah, bisa digunakan kompos dan sebagainya”, imbuhnya.

Sudah sepantasnya warga Kota Metro peduli akan lingkungannya, apalagi retribusi sampah dari Pemerintah Kota Metro hanya sebesar Rp. 10.000,00 untuk rumah tangga setiap bulannya. Angka yang cukup kecil jika dibandingkan dengan dampak dari membuang sampah sembarangan yang dapat mencemarkan lingkungan.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here