Salah satu Karya seni yang sedang di gandrungi anak muda Kota Metro ini ialah grafiti yang identik dengan tembok di jalan raya, di rumah-rumah tua tak berpenghuni atau lahan kosong. Di dalamnya tidak hanya menawarkan gambar yang indah secara real, tapi juga kadang pesan yang menggelitik, karena memuat kritik. 

Tak ayal, pihak dinas kebersihan setempat pun seperti siaga berpatroli untuk mengembalikan dinding atau tembok-tembok jalanan seperti awal. Dicat polos dan bersih, hanya debu yang kemudian mengotorinya. Bisa disaksikan, meski sudah dicat ulang, gambar-gambar itu kerap muncul kembali. 

Bila sudah demikian hanya tinggal aksi ‘kucing-kucingan’ antara aparat dengan pelaku seni yang masih ‘bebal’. 


“Hal seperti itu sudah wajar dialami seni grafiti, karena bagaimanapun ia harus illegal, kalau legal bukan grafiti namanya,” ujar dodi bomber Kota Metro istilah nama sebutan seniman grafiti,

Dodi, yang menekuni seni grafiti sejak tahun 2010an ini, mengatakan awal mula tertarik dengan seni jalanan itu saat masih duduk di bangku Sekolah Menengah Umum. Ia mengawali karyanya dengan corat-coret tembok kosong disekitar sekolahnya,ujar Dodi.

Ia beranggapan grafiti dan street art merupakan dua hal yang berbeda. Grafiti berusaha untuk menutupi seluruh permukaan sebisa mungkin dan pergi ke semua sudut kota. Sedangkan, street art umumnya lebih peduli dengan penempatan yang strategis dan cenderung memiliki pesan yang ingin disampaikan. 

Harapan yang ia sampaikan agar masyarakat Kota Metro bisa menerima dan mengenal lebih dekat lagi akan seni grafiti ini, karena masih banyaknya masyarakat yang masih memandang negatif akan hal ini.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here